LAMPIRAN
10
KENANGAN SELAMA KUKERTA
DI DESA LUBUK BANGKAR
Penulis adalah salah
seorang yang diutus untuk melakukan survey ke lokasi kukerta di kecamatan
batang asai, pertama kali melihat jalan menuju desa lubuk bangkar jujur saja
penulis sempat merasa khawatir akan keadaan tersebut tapi kekhawatiran penulis
lenyap seketika saat penulis dan rombongan mahasiswa KUKERTA posko 23 desa
lubuk bangkar datang kelokasi kukerta sudah disambut oleh warga desa lubuk
bangkar.
Penulis dan rombongan sampai ke rumah kepala
desa lubuk bangkar pada jam sembilan malam. Namun pemuda dusun lubuk bangkar
sudah siap dengan motor dan keranjangnya masing-masing untuk ikut membantu
mengangkut barang-barang kami ke posko yang terletak didusun lubuk bangkar yang
letaknya masih sekitar 2 KM lagi dari rumah kepala desa dan parahnya lagi jalan
tersebut tidak bisa dilewati kendaraan roda empat karena ada tiga jembatan
menuju ke dusun lubuk bangar yang kondisinya cukup menghawatirkan. Para pemuda
tersebut sempat merasa kecewa karena kapela desa tidak mengizinkan para pemuda
untuk mengangkut barang-barang kami padahal mereka sudah menunggu selama dua
jam di dekat rumah kepala desa, kepala desa melarang karena hari sudah larut
malam dan kondisi jalan yang sangat licin setelah diguyur hujan.
Malam pertama didesa
lubuk bangkar, kami bermalam dirumah kepala desa. Baru saja kami masuk rumah
kepala desa, beberapa wargapun datang juga kesana untuk sekedar beramah-tamah
dengan kami, walaupun dengan mata yang sudah kantuk dan badan yang pegal setelah menempuh perjalanan yang sangat
jauh kami terpaksa mengobrol terlebih dahulu dengan para warga tersebut.
Desa lubuk bangkar
terdiri dari lima dusun yaitu dusun renah kandis, renah karib, lubuk bangkar,
renah ridan dan dusun simpang. Rumah kepala desa lubuk bangkar terletak di
dusun renah karib sedangkan posko 23 yang kami tempati terletak di dusun lubuk
bangkar.
Keesokan harinya,
para pemuda desa lubuk bangkar kembali berkumpul untuk mengangkut barang-barang
bawaan kami. Karena barang bawaan kami sangat banyak, kami terpaksa berjalan
kaki menuju posko 23. Tapi itu tidak jadi masalah asalkan barang-barang bawaan
kami sampai dengan selamat ketempat tujuan.
Hari pertama diposko
kami habiskan untuk beristirahat sambil menyiapkan semua perlengkapan posko,
satu hal yang paling berkesan oleh penulis yaitu jamban, karena posko kami
terletak di tepi sungan batang cuban yang dalamnya hanya sekitar setengah
meter, dan di posko yang kami tempati belum ada WCnya maka kami terpaksa
membuat jamban darurat di sungai tersebut. Hal ini mungkin sedikit aneh bagi
sebagian warga desa lubuk bangkar karena mereka tidak pernah membuat WC ataupun
Jamban. Mereka sudah terbiasa buang hajat di sungai batang cuban tanpa
menggunakan jamban.
Hari kedua kami mulai
melakukan survey ke semua dusun yang ada di desa lubuk bangkar sambil
bersilaturrahmi dengan warga sekitar posko. Hari-hari selanjutnya kami mulai
disibukkan dengan membuat LRK, dan menjalankan program kerja kami.
Disela-sela kami
menjalankan program kerja, penulis dan rekan seposko lainnya semakin akrab
dengan semua warga desa lubuk bangkar, mulai dari anak-anak, pemuda dan orang
tua di desa lubuk bangkar. berbagai hal yang tidak kami jumpai ditempat tinggal
kami sebelumnya banyak kami jumpai disini.
Penulis pribadi
mengaku banyak mendapatkan pengalaman berharga yang tidak mungkin untuk
dilupakan di desa lubuk bangkar. di desa lubuk bangkar kami sempat mengadakan
turnament bola volli, bola kaki, badminton, takraw, domino dan juga kami sempat
mengadakan konter dangdut yang kami namakan kontes dangdut lubuk bangkar (KDL).
Dari turnament ini penulis banyak mendapatkan pengalaman baru, penulis dan
beberapa anggota posko cowok yang sebelumnya jarang sekali bahkan hampir tidak
pernah bermain sepak bola di acara tersebut penulis juga ikut bertanding dan
yang paling mengejutkan lagi kami mendapat juara 3. Wuih... hebat kan.....?
hehehe
Selain itu penulis
juga sempat menjadi MC di acara KDL, padahal sebelumnya untuk menaiki panggung
saja penulis tidak berani karena malu.
Di desa lubuk
bangkar, penulis dan beberapa anggota posko juga sempat mendaki bukit tempurung
bersama dengan pemuda dan anak-anak desa lubuk bangkar. perjalanan mendaki
tersebut sangat mengesankan karena pemandangannya sangat luar biasa.
Dan masih banyak lagi pengalaman menarik dan berharga yang penulis
dapatkan selama berada didesa lubuk bangkar.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar