Senin, 29 Oktober 2012

Kenangan selama kukerta


LAMPIRAN 10

KENANGAN SELAMA KUKERTA
DI DESA LUBUK BANGKAR


Penulis adalah salah seorang yang diutus untuk melakukan survey ke lokasi kukerta di kecamatan batang asai, pertama kali melihat jalan menuju desa lubuk bangkar jujur saja penulis sempat merasa khawatir akan keadaan tersebut tapi kekhawatiran penulis lenyap seketika saat penulis dan rombongan mahasiswa KUKERTA posko 23 desa lubuk bangkar datang kelokasi kukerta sudah disambut oleh warga desa lubuk bangkar.
   Penulis dan rombongan sampai ke rumah kepala desa lubuk bangkar pada jam sembilan malam. Namun pemuda dusun lubuk bangkar sudah siap dengan motor dan keranjangnya masing-masing untuk ikut membantu mengangkut barang-barang kami ke posko yang terletak didusun lubuk bangkar yang letaknya masih sekitar 2 KM lagi dari rumah kepala desa dan parahnya lagi jalan tersebut tidak bisa dilewati kendaraan roda empat karena ada tiga jembatan menuju ke dusun lubuk bangar yang kondisinya cukup menghawatirkan. Para pemuda tersebut sempat merasa kecewa karena kapela desa tidak mengizinkan para pemuda untuk mengangkut barang-barang kami padahal mereka sudah menunggu selama dua jam di dekat rumah kepala desa, kepala desa melarang karena hari sudah larut malam dan kondisi jalan yang sangat licin setelah diguyur hujan.
Malam pertama didesa lubuk bangkar, kami bermalam dirumah kepala desa. Baru saja kami masuk rumah kepala desa, beberapa wargapun datang juga kesana untuk sekedar beramah-tamah dengan kami, walaupun dengan mata yang sudah kantuk dan badan yang  pegal setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh kami terpaksa mengobrol terlebih dahulu dengan para warga tersebut.
Desa lubuk bangkar terdiri dari lima dusun yaitu dusun renah kandis, renah karib, lubuk bangkar, renah ridan dan dusun simpang. Rumah kepala desa lubuk bangkar terletak di dusun renah karib sedangkan posko 23 yang kami tempati terletak di dusun lubuk bangkar.
Keesokan harinya, para pemuda desa lubuk bangkar kembali berkumpul untuk mengangkut barang-barang bawaan kami. Karena barang bawaan kami sangat banyak, kami terpaksa berjalan kaki menuju posko 23. Tapi itu tidak jadi masalah asalkan barang-barang bawaan kami sampai dengan selamat ketempat tujuan.

  
   
Hari pertama diposko kami habiskan untuk beristirahat sambil menyiapkan semua perlengkapan posko, satu hal yang paling berkesan oleh penulis yaitu jamban, karena posko kami terletak di tepi sungan batang cuban yang dalamnya hanya sekitar setengah meter, dan di posko yang kami tempati belum ada WCnya maka kami terpaksa membuat jamban darurat di sungai tersebut. Hal ini mungkin sedikit aneh bagi sebagian warga desa lubuk bangkar karena mereka tidak pernah membuat WC ataupun Jamban. Mereka sudah terbiasa buang hajat di sungai batang cuban tanpa menggunakan jamban.



 
Hari kedua kami mulai melakukan survey ke semua dusun yang ada di desa lubuk bangkar sambil bersilaturrahmi dengan warga sekitar posko. Hari-hari selanjutnya kami mulai disibukkan dengan membuat LRK, dan menjalankan program kerja kami.
Disela-sela kami menjalankan program kerja, penulis dan rekan seposko lainnya semakin akrab dengan semua warga desa lubuk bangkar, mulai dari anak-anak, pemuda dan orang tua di desa lubuk bangkar. berbagai hal yang tidak kami jumpai ditempat tinggal kami sebelumnya banyak kami jumpai disini.
Penulis pribadi mengaku banyak mendapatkan pengalaman berharga yang tidak mungkin untuk dilupakan di desa lubuk bangkar. di desa lubuk bangkar kami sempat mengadakan turnament bola volli, bola kaki, badminton, takraw, domino dan juga kami sempat mengadakan konter dangdut yang kami namakan kontes dangdut lubuk bangkar (KDL). Dari turnament ini penulis banyak mendapatkan pengalaman baru, penulis dan beberapa anggota posko cowok yang sebelumnya jarang sekali bahkan hampir tidak pernah bermain sepak bola di acara tersebut penulis juga ikut bertanding dan yang paling mengejutkan lagi kami mendapat juara 3. Wuih... hebat kan.....? hehehe

Selain itu penulis juga sempat menjadi MC di acara KDL, padahal sebelumnya untuk menaiki panggung saja penulis tidak berani karena malu. 

Di desa lubuk bangkar, penulis dan beberapa anggota posko juga sempat mendaki bukit tempurung bersama dengan pemuda dan anak-anak desa lubuk bangkar. perjalanan mendaki tersebut sangat mengesankan karena pemandangannya sangat luar biasa.

 

Dan masih banyak lagi pengalaman menarik dan berharga yang penulis dapatkan selama berada didesa lubuk bangkar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar